Senin, 02 Januari 2017

Hipotesis Louis de Broglie

         Blog KoKim - Pada artikel ini kita akan membahas materi Hipotesis Louis de Broglie yang merupakan kelanjutan dari artikel "teori kuantum Max Planck" dan "model atom Bohr". Pada tahun 1924, Louis de Broglie, menjelaskan bahwa cahaya dapat berada dalam suasana tertentu yang terdiri dari partikel-partikel, kemungkinan berbentuk partikel pada suatu waktu, yang memperlihatkan sifat-sifat seperti gelombang (James E Brady, 1990).

Argumen de Broglie menghasilkan hal sebagai berikut.
Einstein : $E = mc^2$
Max Planck : $E=h.\upsilon = \frac{h . c }{\lambda } $
sehingga untuk menghitung panjang gelombang satu partikel diperoleh:
Keterangan :
$\lambda = \, $ panjang gelombang (m)
$ m = \, $ massa partikel (kg)
$ \upsilon = \, $ kecepatan partikel (m/s)
$ h = \, $ tetapan Planck (6,626 $\times 10^{-34}$ Joule s)

         Hipotesis de Broglie terbukti benar dengan ditemukannya sifat gelombang dari elektron. Elektron mempunyai sifat difraksi seperti halnya sinar-X. Berdasarkan persamaan de Broglie, diketahui bahwa teori atom Bohr memiliki kelemahan. Kelemahan itu ada pada pernyataan Bohr yang menyebutkan bahwa elektron bergerak mengelilingi inti atom pada lintasan tertentu berbentuk lingkaran. Padahal, elektron yang bergerak mengelilingi inti atom juga melakukan gerak gelombang. Gelombang tersebut tidak bergerak sesuai garis, tetapi menyebar pada suatu daerah tertentu. Atau dengan kata lain, sebagai akibat dari sifat elektron-elektron sebagai materi dan sebagai gelombang, maka lintasan elektron yang dikemukakan Bohr tidak dapat dibenarkan. Gelombang tidak bergerak menurut suatu garis, melainkan menyebar pada suatu daerah tertentu.

       Demikian pembahasan materi Hipotesis Louis de Broglie. Silahkan juga baca materi lain yang berkaitan dengan teori mekanika kuantum.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar